Biografi Buya Hamka

Biografi Buya Hamka.  Bagi kamu yang menyukai karya sastra indonesia, mungkin sudah tidak asing lagi dengan tokoh yang satu ini. Buya Hamka adalah seorang budayawan, jurnalis dan sastrawan indonesia yang terkenal dengan beberapa buku cerita pendek dan novel karangannya. Berikut ini adalah biografi perjalanan hidup seorang buya hamka.

Profil Buya Hamka

  • Nama : Abdul Malik Karim Amrulah
  • Nama Pena : Hamka
  • Dikenal : Buya Hamka
  • Tempat / Tgl. Lahir : Agam, Sumatera Barat / 17 Februari 1908
  • Wafat : Jakarta / 24 Juli 1981 (usia 73 tahun)
  • Kebangsaan : Indonesia
  • Orang Tua : Syekh Abdul Karim bin Amrullah (Ayah), Siti Safiyah (Ibu)
  • Pasangan : Sitti Raham, Siti Khadijah
  • Anak : Rusydi Hamka, Irfan Hamka, Aliyah Hamka
  • Kerabat: Fatimah (Kakak Tiri) dari Pernikahan Pertama Ayahnya, Ahmad Rasyid Sutan Mansur (Kakak Ipar)
  • Karir : Penulis & Aktivis Muhammadiyah
  • Karya Terkenal : Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Tafsir Al-Azhar & Di Bawah Lindungan Ka’bah

Biografi Buya Hamka

Kehidupan Keluarga & Masa Kecil Buya Hamka

Abdul Malik atau yang sekarang banyak di kenal dengan Buya Hamka adalah anak pertama dari 4 bersaudara yang terlahir dari pasangan Haji Rasul atau Abdul Karim Amrullah ayahnya dan Siti Safiyah. Safiyah ibu Hamka adalah istri kedua Haji Rasul setelah pernikahan pertamanya dengan Raihana yang tidak lain merupakan kakak dari Safiyah, ia meninggal di Mekkah. Pernikahan pertama tersebut meninggalkan seorang anak perempuan bernama Fatimah, kakak tiri Hamka.

Ayah Hamka adalah pelopor gerakan pembaharuan (islah) di ranah Minang. Berbagai macam usaha dakwah serta pendidikan telah dilakukan Haji Rasul untuk memurnikan aqidah umat pada saat itu, tantangan dan rintangan ia hadapi hanya untuk dakwah dan mengingatkan umat manusia untuk kembali ke jalan aqidah yang benar. Sedangkan Ibu Hamka adalah perempuan berdarah bangsawan. Masa kecil Hamka dihabiskan bersama anduangnya di Maninjau. Hamka kecil sangat suka mengembara mengunjungi beberapa perguruan pencak SIlat, ia juga menyukai kisah rakyat dan mendengarkan senandung yang dinyanyikan dengan rebab dan saluang (alat musik tradisional minang), mendengarkan pantun-pantun dan menonton film.

  Biografi Ismail Marzuki

Pada saat itu Ayahnya sering sekali bepergian untuk melakukan dakwah Islam. Barulah saat usia Hamka 4 tahun, ia mengikuti kedua orang tuanya berpindah ke Padangpanjang. Di sana ia mulai belajar shalat, membaca Al Qur’an dibimbing oleh sang kakak Fatimah. Saat memasuki usia 7 tahun, Malik disekolahkan ke sekolah Desa pada saat itu.

Pada tahun 1916 dibukalah sekolah agama yang dikenal dengan Diniyah School oleh Zainuddin Labay El Yunusy. Malik mengikuti pelajaran di Sekolah Desa pada pagi hari dan sore harinya ia mengambil kelas di Diniyah School. Ketertarikan dan kesukaannya pada Bahasa, membuat Malik kecil sangat cepat menguasai Bahasa Arab.

Pada tahun 1918, akhirnya sang Ayah memindahkan Malik dari Sekolah Desa ke Sekolah Thawalib. Sekolah dengan fokus utama pendidikan agama tersebut mewajibkan murid-muridnya untuk menghafal kitab klasik, ilmu araf dan kaidah tentang nahwu. Jadwal belajarnya pun berubah, pagi hari Malik menghadiri kelas di Diniyah School dan sore harinya belajar di Thawalib, malamnya ia kembali ke surau.

Kesibukan belajarnya membuatnya menjadi anak yang sedikit nakal, jika kehendaknya tidak dituruti maka sering kali ia mengganggu teman-temannya. Kegemaran menonton filmnya pun pernah membuat ia mengelabui sang Ayah dengan diam-diam mengintip film bisu di bioskop dan tidak datang ke surau.

Perceraian Orang Tua

Genap usia Malik 12 tahun ia menyaksikan perceraian orang tuanya. Meskipun sang ayah adalah penganut agama yang taat, namun kerabat dari pihak sang ibu masih menjalankan beberapa praktik adat yang bertentangan dengan ajaran Islam. Setelah perceraian kedua orang tuanya, Malik banyak menghabiskan waktunya berkelana, bepergian jauh bahkan membolos sekolah selama 15 hari.

Aksi bolos sekolahnya ini kemudian diketahui sang Ayah dari gurunya yang berkunjung di rumah untuk mengetahui keadaan Malik. Ayahnya marah karena ulah Malik dan menamparnya. Ketakutan pada ayahnya membuatnya kembali menjalankan aktivitas belajarnya seperti biasa. Aktivitasnya mulai berubah saat ia mengetahui gurunya Zainuddin membuka Bibliotek, sebuah perpustakaan dan persewaan buku. Malik muda pun banyak menghabiskan waktunya untuk membaca, tidak hanya membaca saja yang dia lakukan tetapi juga menyalin kembali apa yang dibacanya sesuai dengan versinya sendiri.

  Biografi Bob Sadino

Permasalahan dalam keluarga membuat Malik sering bepergian jauh, hingga mengunjungi sang Ibu. Pada saat itu Malik muda sangat bingung untuk tinggal bersama Ibu atau Ayahnya, tinggal bersama Ayahnya maka bertemu Ibu tiri, tinggal bersama Ibu maka ada Ayah tiri. Hatinya yang bingung dan terluka karena perceraian orang tua, membuat Malik mencari pergaulan lain dengan bergaul bersama anak muda Maninjau. Kala itu ia belajar randai dan silat, ia pergi jauh hingga ke Payakumbuh, sempat bergaul dengan joki pacuan kuda dan penyabung ayam.

Setahun hidupnya terlantar, hingga akhirnya sang Ayah mengantarnya untuk mengaji pada ulama Syekh Ibrahim Musa di Parebak. Disanalah Hamka mulai belajar hidup mandiri sebagai santri. Kesenangannya bepergian jauh ternyata masih ia lakukan saat libur di hari Sabtu, ia pun dijuluki Si Buyung Jauh oleh ayahnya.

Kisah Perantauan Buya Hamka Ke Pulau Jawa

Di usianya yang masih 15 tahun, Malik memutuskan untuk merantau ke pulau Jawa. Ia melakukan perjalanan darat menuju ke Jawa dengan ongkos yang diberikan andungnya, karena sang Ayah tidak mengetahui kepergian Malik, ia kabur dari sang Ayah. Sayang perjalanan pertamanya gagal karena didera penyakit malaria hingga diserang cacar, ia harus pulang kembali ke Maninjau.

Akhirnya tepat pada bulan Juli 1924, Malik kembali melakukan perjalanan ke pulau Jawa, ia bertemu sang paman Jafar Amrullah di Yogyakarta. Sang paman membawanya pada Ki Bagus Hadikusumo, Malik menemukan ketertarikan saat berguru pada Ki Bagus dan belajar tafsir Al Quran, mengupas secara mendalam makna Al Quran.

Malik muda pun belajar banyak saat berada di Yogyakarta, ia mempelajari ilmu gerakan sosial politik khususnya pada pergerakan Islam modern. Ia pun bergabung menjadi anggota Sarekat Islam dan berguru pada HOS Tjokroaminoto dan Suryo Pranoto. Perantauan di Jawa memberikan pengaruh besar pada pemikiran Malik. Ia menemukan Islam sebagai sesuatu yang hidup, sebuah pendirian yang dinamis dan sesuatu yang harus diperjuangkan. Setelah itu ia memutuskan pindah ke Pekalongan dan belajar pada Sutan Mansur, suami Fatimah (kakak tirinya) dan mulai memperlebar komunikasi.

  Biografi Chairil Anwar

Perjalanan Karir Buya Hamka

Tahun 1927, Hamka menjadi seorang guru di Perkebunan Tebing Tinggi, Medan, kemudian pada tahun 1929 menjadi guru agama di Padang Panjang. Dari tahun 1957-1958 Hamka dilantik menjadi dosen di Universitas Islam Jakarta dan di Universitas Muhammadiyah Padang Panjang. Kariernya berlanjut menjadi rektor di Perguruan Tinggi Islam Jakarta. Tahun 1951-1960, Hamka menjadi salah satu Pegawai Tinggi Agama, namun ia meletakkan jabatan tersebut pada saat Soekarno menyuruh beliau memilih antara tetap menjadi pegawai negeri atau menjalankan peran di dalam politik Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia).

Hamka aktif dalam pergerakan Islam melalui organisasi Islam Muhammadiyah. Ia ikut berperan aktif mendirikan Muhammadiyah dari tahun 1925 dan berjuang di jalan dakwah. Tahun 1928 ia menjadi ketua Muhammadiyah di Padang Panjang. Tahun 1929, Hamka mendirikan sebuah pusat pelatihan dakwah Muhammadiyah dan 2 tahun berselang ia didapuk sebagai konsul Muhammadiyah di wilayah Makassar.

Pada tahun 1946, Hamka terpilih menjadi ketua Majlis Pimpinan Muhammadiyah Sumatera Barat menggantikan Sutan Mangkuto. Tahun 1950, beliau menyusun kembali pembangunan pada Kongres Muhammadiyah yang ke 31 di Yogyakarta. Tahun 1953 ia ditetapkan sebagai pimpinan Pusat Muhammadiyh. Tanggal 26 Juli 1977, Mukti Ali (Menteri Agama) melantik Hamka menjadi ketua umum Majelis Ulama Indonesia. Pada tahun 1981, Hamka mundur dari jabatannya karena nasihat yang ia berikan tidak dipedulikan oleh pemerintahan Indonesia pada saat itu.

Karir Wartawan & Kepenulisan

Hamka merupakan seorang wartawan, editor, penulis dan penerbit. Sejak tahun 1920an Buya Hamka sudah aktif menjadi wartawan di Pelita Andalas, Bintang Islam, Seruan Islam dan Seruan Muhammadiyah. Tahun 1928, Hamka bekerja menjadi editor di majalah Kemajuan Rakyat. Pada tahun 1932, Hamka juga menjadi editor dan berhasil menerbitkan majalah al-Mahdi di wilayah Makassar. Beliau juga pernah menjadi editor di majalah Gema Islam, Panji Masyarakat dan Pedoman Masyarakat.

  Biografi Sunan Kalijaga

biografi buya hamka

Karya Ilmiah Islam juga dihasilkan dari tangan terampil Buya Hamka, seperti karya terbesarnya Tafsir al-Azhar. Novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Merantau ke Deli dan Di Bawah Lindungan Ka’bah. Ia pun juga banyak menerima penghargaan seperti anugerah kehormatan dari Univ. Al-Azhar “Doctor Honoris Causa” dan berbagai anugerah lainnya.

Kehidupan Pribadi Buya Hamka

Hamka menikah dengan Siti Raham di usia 15 tahun pada tanggal 5 April 1929, yang sudah dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Dari pernikahan dengan Raham ia dikaruniai 7 orang putra dan 3 orang putri. Di tahun 1972 Siti Raham wafat, setahun kemudian Hamka menikah kembali dengan Siti Khadijah dari Cirebon.

Wafatnya Buya Hamka

Tepatnya pada tanggal 24 Juli 1981, setelah melepaskan jabatan di pemerintahan RI, Hamka berpulang ke rahmatullah. Jasa serta pengaruhnya sangat terasa hingga saat ini. Karya-karya besarnya pun masih terus dikenang dan bermanfaat hingga sekarang. Seorang tokoh ulama, sastrawan, yang jasanya terus di kenang di Nusantara bahkan di Singapura dan Malaysia.

Peninggalan Buya Hamka

Buya Hamka membuat sebuah Kitab Tafsir Al-Azhar merupakan karya gemilang beliau. Tafsir Al-Quran 30 juz itu salah satu dari 118 lebih karya yang dihasilkan Buya HAMKA semasa hidupnya. Tafsir tersebut dimulainya tahun 1960.

HAMKA juga meninggalkan berbagai karya tulis yang tetap dibaca hingga saat ini. Tulisan-tulisannya meliputi banyak bidang kajian seperti politik (Pidato Pembelaan Peristiwa Tiga Maret, Urat Tunggang Pancasila), sejarah (Sejarah Ummat Islam, Sejarah Islam di Sumatera), budaya (Adat Minangkabau Menghadapi Revolusi), akhlak (Kesepaduan Iman & Amal Salih ), dan ilmu-ilmu keislaman (Tashawwuf Modern).

Berikut ini adalah daftar lengkap karya ilmiah, buku cerita dan novel yang dibuat oleh HAMKA:

  1. Khatibul Ummah, Jilid 1-3. Ditulis dalam huruf Arab.
  2. Si Sabariah. (1928)
  3. Pembela Islam (Tarikh Saidina Abu Bakar Shiddiq),1929.
  4. Adat Minangkabau dan agama Islam (1929).
  5. Ringkasan tarikh Ummat Islam (1929).
  6. Kepentingan melakukan tabligh (1929).
  7. Hikmat Isra’ dan Mikraj.
  8. Arkanul Islam (1932) di Makassar.
  9. Laila Majnun (1932) Balai Pustaka.
  10. Majallah ‘Tentera’ (4 nomor) 1932, di Makassar.
  11. Majallah Al-Mahdi (9 nomor) 1932 di Makassar.
  12. Mati mengandung malu (Salinan Al-Manfaluthi) 1934.
  13. Di Bawah Lindungan Ka’bah (1936) Pedoman Masyarakat,Balai Pustaka.
  14. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1937), Pedoman Masyarakat, Balai Pustaka.
  15. Di Dalam Lembah Kehidupan 1939, Pedoman Masyarakat, Balai Pustaka.
  16. Merantau ke Deli (1940), Pedoman Masyarakat, Toko Buku Syarkawi.
  17. Margaretta Gauthier (terjemahan) 1940.
  18. Tuan Direktur 1939.
  19. Dijemput mamaknya,1939.
  20. Keadilan Ilahy 1939.
  21. Tashawwuf Modern 1939.
  22. Falsafah Hidup 1939.
  23. Lembaga Hidup 1940.
  24. Lembaga Budi 1940.
  25. Majallah ‘SEMANGAT ISLAM’ (Zaman Jepang 1943).
  26. Majallah ‘MENARA’ (Terbit di Padang Panjang), sesudah revolusi 1946.
  27. Negara Islam (1946).
  28. Islam dan Demokrasi,1946.
  29. Revolusi Pikiran,1946.
  30. Revolusi Agama,1946.
  31. Adat Minangkabau menghadapi Revolusi,1946.
  32. Dibantingkan ombak masyarakat,1946.
  33. Didalam Lembah cita-cita,1946.
  34. Sesudah naskah Renville,1947.
  35. Pidato Pembelaan Peristiwa Tiga Maret,1947.
  36. Menunggu Beduk berbunyi,1949 di Bukittinggi,Sedang Konperansi Meja Bundar.
  37. Ayahku,1950 di Jakarta.
  38. Mandi Cahaya di Tanah Suci. 1950.
  39. Mengembara Dilembah Nyl. 1950.
  40. Ditepi Sungai Dajlah. 1950.
  41. Kenangan-kenangan hidup 1,autobiografi sejak lahir 1908 sampai pd tahun 1950.
  42. Kenangan-kenangan hidup 2.
  43. Kenangan-kenangan hidup 3.
  44. Kenangan-kenangan hidup 4.
  45. Sejarah Ummat Islam Jilid 1,ditulis tahun 1938 diangsur sampai 1950.
  46. Sejarah Ummat Islam Jilid 2.
  47. Sejarah Ummat Islam Jilid 3.
  48. Sejarah Ummat Islam Jilid 4.
  49. Pedoman Mubaligh Islam,Cetakan 1 1937 ; Cetakan ke 2 tahun 1950.
  50. Pribadi,1950.
  51. Agama dan perempuan,1939.
  52. Muhammadiyah melalui 3 zaman,1946,di Padang Panjang.
  53. 1001 Soal Hidup (Kumpulan karangan dr Pedoman Masyarakat, dibukukan 1950).
  54. Pelajaran Agama Islam,1956.
  55. Perkembangan Tashawwuf dr abad ke abad,1952.
  56. Empat bulan di Amerika,1953 Jilid 1.
  57. Empat bulan di Amerika Jilid 2.
  58. Pengaruh ajaran Muhammad Abduh di Indonesia (Pidato di Kairo 1958), utk Doktor Honoris Causa.
  59. Soal jawab 1960, disalin dari karangan-karangan Majalah GEMA ISLAM.
  60. Dari Perbendaharaan Lama, 1963 dicetak oleh M. Arbie, Medan; dan 1982 oleh Pustaka Panjimas, Jakarta.
  61. Lembaga Hikmat,1953 oleh Bulan Bintang, Jakarta.
  62. Islam dan Kebatinan,1972; Bulan Bintang.
  63. Fakta dan Khayal Tuanku Rao, 1970.
  64. Sayid Jamaluddin Al-Afhany 1965, Bulan Bintang.
  65. Ekspansi Ideologi (Alghazwul Fikri), 1963, Bulan Bintang.
  66. Hak Asasi Manusia dipandang dari segi Islam 1968.
  67. Falsafah Ideologi Islam 1950(sekembali dr Mekkah).
  68. Keadilan Sosial dalam Islam 1950 (sekembali dr Mekkah).
  69. Cita-cita kenegaraan dalam ajaran Islam (Kuliah umum) di Universiti Keristan 1970.
  70. Studi Islam 1973, diterbitkan oleh Panji Masyarakat.
  71. Himpunan Khutbah-khutbah.
  72. Urat Tunggang Pancasila.
  73. Doa-doa Rasulullah S.A.W,1974.
  74. Sejarah Islam di Sumatera.
  75. Bohong di Dunia.
  76. Muhammadiyah di Minangkabau 1975,(Menyambut Kongres Muhammadiyah di Padang).
  77. Pandangan Hidup Muslim,1960.
  78. Kedudukan perempuan dalam Islam,1973.

***
Demikianlah artikel biografi buya hamka yang bisa dibagikan kali ini. Semoga ifo biografi ini bisa menjadi sumber pengetahuan yang terbaik untuk anda dalam mempelajari kisah hidup para tokoh terkenal.

  Biografi Bob Sadino