Pengertian Hukum Islam

Pengertian Hukum Islam; Sumber, Tujuan Dan Manfaatnya. Tentunya kita sering mendengar tentang istilah hukum islam, dimana islam bukan hanya sebagai agama tetapi juga lahir dengan legal sistem atau hukum yang mengikat dan berlaku di beberapa negara di daerah arabia. Pada artikel kali ini kita akan membahas lebih dalam mengenai pengertian hukum Islam dan berbagai aspeknya, sebagai berikut:

Pengertian Hukum Islam

Hukum Islam adalah hukum yang berdasarkan pada ajaran agama Islam, atau sering disebut sebagai syariat Islam

Sumber Hukum Islam

Adapun sumber hukum Islam itu adalah berdasarkan kitab suci Al Quran dan Hadist atau Sunnah Rasul, juga Fatwa Ulama sebagai bentuk ijtihad.

Hierarki Sumber Hukum Islam di Indonesia

Adapun hierarki atau urutan atau jenjang sumber hukum Islam di Indonesia adalah sebagai berikut.

1. Al Quran

Sebagai sumber hukum Islam yang pertama dan utama juga yang tertinggi adalah ayat-ayat Quran. Dalam ayat Quran tersebut juga disebutkan mengenai sumber hukum Islam dalam urutan atau hierarki atau jenjang berikutnya setelah ayat Quran, yakni sunnah Rasul, teladan atau contoh dari Nabi Muhammad SAW yang dipersaksikan dan dicatat oleh para sahabat, yakni muslim di sekeliling beliau dan hidup sejaman yang menyaksikan sendiri kejadiannya atau peristiwanya, atau yang kemudian disebut sebagai hadist.

2. Hadist

Hadist adalah catatan dari para perawi atau periwayat, penutur riwayat, yakni para sahabat, yaitu orang-orang muslim yang hidup sejaman dengan Nabi dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri mengenai kejadian atau peristiwa yang dilakukan atau dialami oleh nabi. Secara rinci pengertian Hadits Rasulullah SAW tersebut ialah catatan mengenai segala sesuatu yang dikatakan oleh Nabi Muhammad SAW, dan segala sesuatu yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, dan perkataan atau perilaku sahabat yang disetujui atau didiamkan saja oleh Nabi Muhammad SAW, dan perkataan atau perilaku sahabat yang dilarang atau dikomentari negatif oleh Nabi Muhammad SAW.

  Pengertian Nilai Sosial: Ciri, Sumber, Fungsi, Dan Contohnya

Perkara mengenai suatu peristiwa bisa termuat dalam satu atau lebih hadist. Dari sekian banyak hadist yang ada tersebut kemudian dikelompok-kelompokkan menjadi berbagai derajat kesahihan atau tingkat keabsahannya, mulai dari hadist yang sahih atau terpercaya, yang bersumber dari perawi yang terpercaya dan terkenal reputasinya akan kejujuran dan karakter baiknya, dan juga perawinya tersebut berjumlah banyak, lebih dari satu orang hingga hadist yang palsu, yakni hadist yang tidak bisa dipercaya atau hanya bersumber dari satu perawi dan itupun perawi yang terkenal akan ketidakjujurannya, dan dari segi matannya atau isi hadistnya yang pertentangan dengan banyak hadist lainnya, atau hadist dari perawi lain yang lebih dapat dipercaya kejujurannya. Kemudian juga berdasarkan jumlah perawinya maka hadist dapat dikategorikan menjadi dari yang tertinggi yakni hadist Mutawarir hingga hadist wahid atau didukung hanya oleh satu perawi tunggal.

Pengkategorian hadist-hadist tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan sanad dan matannya. Sanad itu adalah urutan alur para perawi atau penutur hadistnya hingga ke sumber aslinya yakni Nabi Muhammad SAW. Secara etimologi bahasa, dalam bahasa arab, sanad artinya adalah sandaran atau sesuatu yang dijadikan sandaran. Sedangkan matan itu adalah isi atau materi hadistnya. Secara etimologi bahasa kata matan itu berasal dari bahasa Arab yakni matn, yang memiliki arti sebagai punggung jalan ataupun tanah yang tinggi dan keras atau dasaran. Intinya matan itu adalah isi pokok hadist yang tidak berupa komentar dan bukan tambahan-tambahan penjelasan. Kata jamak dari matn adalah mutun, yang dimaksud sebagai matn dalam ilmu hadits adalah ma yantahiy ilayhi as-sanad min al-kalam, yaitu sabda nabi yang disebut setelah sanad, ataupun penghubung sanad, ataupun materi haditsnya.

3. Fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia)

Dalam penerapan hukum Islam di Indonesia, hierarki sumber atau landasan hukum selanjutnya adalah fatwa MUI sebagai bentuk ijtihad berupa ijma’. MUI atau Majelis Ulama Indonesia itu adalah sekumpulan ulama se Indonesia. Jadi fatwa MUI tersebut bukan hasil pemikiran dari satu orang ulama saja, namun sudah didiskusikan dan menjadi kesepakatan oleh banyak ulama se Indonesia. Kata fatwa atau yang dalam bahasa arabnya adalah فتوى‎, fatwā merupakan suatu istilah mengenai pendapat atau tafsiran pada suatu masalah yang berkaitan dengan hukum Islam. Kata fatwa secara etimologi dalam bahasa Arab memiliki arti sebagai nasehat atau petuah atau jawaban atau suatu pendapat. Sedangkan kata ijtihad itu secara etimologi bahasa dalam bahasa arab, pengertian Ijtihad ialah mencurahkan pikiran dengan secara bersungguh-sungguh. Sehingga makna ijtihad adalah suatu proses penetapan hukum syariat dengan mencurahkan seluruh pikiran dan juga tenaga dengan secara bersungguh-sungguh. Sedangkan kata ijma’ maknanya ialah suatu kesepakatan yang dilakukan oleh para ulama dalam menetapkan hukum agama Islam berdasarkan Al-quran dan hadits dalam suatu perkara. Hasil dari kesepakatan para ulama tersebut berupa fatwa yang dilaksanakan oleh umat Islam. Sebenarnya apa yang tertuang dalam fatwa tersebut pada dasarnya ada dalam ayat Quran dan juga hadist, namun perlu diperinci dengan lebih detil lagi atau ada yang perlu lebih digaris bawahi.

  Pengertian Sosial Media

Pengelompokan Hadist

Kategori pengelompokkan hadist dapat dibagi dengan kriteria jumlah perawinya, ataupun tingkat kemasyhurannya, maupun     berdasarkan karakter perawinya berdasar sanad dan matannya.

1. Pengelompokan Hadist Berdasarkan Jumlah Perawinya

Berdasarkan jumlah perawinya maka suatu hadist dapat dikategorikan sebagai mutawatir atau tak tersangkal atau tidak dapat dipungkiri, yakni suatu posisi yang kuat sekali, karena hadisnya sangat dikenal luas, dan didukung oleh banyak referensi perawi. Kemudian kategori berikutnya adalah masyhur atau cukup dikenal luas namun hanya didukung oleh beberapa referensi asli atau sedikit perawi, meski jumlahnya lebih dari satu perawi. Kemudian yang terakhir adalah wahid atau tunggal, yakni hadist yang didukung oleh hanya satu perawi atau terlalu sedikit referensi dan alur rentetan sanadnya terputus-putus.

2. Pengelompokan Hadist Berdasarkan Kualitas Sanad dan Matannya

Berdasarkan kualitas sanad dan matannya maka hadist bisa terbagi menjadi hadist Sahih, yakni hadist yang matan atau kandungan isinya tidak bertentangan dengan Al-Qur’an, dan bersambung sanadnya, serta diriwayatkan oleh perawi yang adil, berkarakter dan bereputasi baik dan  yang dhobit atau kuat ingatannya, dan juga tidak syadz matannya, atau tidak bertentangan dengan hadits lain yang lebih sahih, serta tidak cacat alur runtutan sanadnya walaupun tersembunyi. Kemudian ada hadist Dhoif atau palsu, yakni yang ada cacat pada sanad atau matannya.

3. Tata Cara Jalannya Peradilan Syariah

Dalam praktek pelaksanaannya dalam pengadilan syariah, maka seorang qadi atau hakim akan mendengarkan pemaparan suatu kasus, termasuk adanya saksi dan juga bukti, kemudian qadi akan membuat keputusan. Kadang kala qadi juga melakukan konsultasi dengan mufti atau sarjana hukum, mengenai pendapat perihal suatu perkara.

Tujuan Hukum Islam

Tujuan hukum Islam adalah supaya manusia hidup sesuai aturan dan perintah Tuhan, Allah SWT.

  Pengertian Manajemen Keuangan

Manfaat Hukum Islam

Adapun manfaat hukum Islam adalah supaya manusia terutama umat muslim mengetahui apa saja nilai hukum Islam dari setiap tindakan dan perbuatannya, yakni apakah wajib, atau sunnah, atau mubah atau justru haram, yakni terlarang, sehingga dalam kegiatan kesehariannya dapat bernilai ibadah dan terhindar dari perbuatan dosa, selain itu manfaat penerapan hukum Islam adalah adanya kepastian hukum dan penegakkan keadilan, serta mencegah timbulnya pelanggaran dan kejahatan karena ditegakkannya hukum Islam secara tegas dan adil, yang antara lain cukup berat ancaman hukumannya.

Status-status Hukum dalam Islam

Dalam hukum Islam terdapat status-status hukum sebagai berikut. Wajib atau fardhu, lalu sunnah, disarankan atau mustajab, kemudian mubah atau dibolehkan, lalu makruh atau tercela dan dibenci, kemudian haram atau terlarang. Jadi jika status hukumnya wajib maka jika dilalukan maka akan mendapat pahala tapi jika ditinggalkan akan mendapat dosa. Sedangkan jika status hukumnya adalah sunnah, maka sebaiknya perbuatan atau tindakan tersebut dilakukan, sehingga akan mendapat pahala atasnya, namun jika ditinggalkan tidak akan mendapat dosa. Kemudian status hukum mubah adalah dibolehkan yakni jika dilakukan tidak akan mendapat pahala  juga jika tidak dikerjakan tidak akan mendapat dosa. Lalu status hukum makruh, yakni jika dikerjakan maka tidak akan mendapat dosa juga pahala namun jika ditinggalkan maka akan mendapat pahala. Kemudian status hukum haram, adalah jika dikerjakan maka akan mendapat dosa, dan jika ditinggalkan maka akan mendapat pahala.

***

Demikianlah pembahasan kita kali ini mengenai pengertian hukum Islam. Semoga dapat menambah wawasan kita mengenai hukum dan jenis-jenisnya.